PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI BOWEL/BAB(4Ns)

KONSEP DASAR

Pengertian:

Eliminasi bowel/ Buang Air Basar (BAB) atau disebut juga defekasi merupakan faeces normal tubuh yang penting bagi kesehatan untuk mengeluarkan sampah dari tubuh. Sampah yang dikeluarkan ini disebut faeces atau stool.

 

Anatomi Saluran Pencernaan:

- Oral/Mulut

- Esofagus/Tenggorokan

- Gaster/Lambung

- Usus halus, usus besar/kolon: 125-150cm (50 – 60 inc)

  • Usus Halus (Duadenum, Jejenun, Illeum)
  • Sekum – ileosekal (menghubungkan usus halus dan usus besar untuk mencegah regurgitasi.
  • Kolon (Asending, Transversum, Desending, Sigmoid).
  • Rektum: 10=15 cm (4-6 inchi), normalnya kosong sampai menjelang defekasi.
  • Anal/ onifisium eksternal (2, 5-5 cm/ 1-2 inci) mempunyai spingter: Internal (involunter) dan  Eksternal (volunteer)

Fisiologi Usus Besar:

Usus besar tidak ikut serta dalam pencernaan/ absorpsi makanan bila isi usus halus mencapai sektum, maka semua zat makanan telah diabsorpsi dan isinya cair (disebut chime). Selama perjalanan di dalam kolon (16-20 jam) isinya menjadi makin padat karena air diabsorpsi dan sampai di rectum faeces bersifat padat – lunak.

Fungsi utama usus besar/kolon adalah:

- Absorpsi/penyerapan air, Na Cl dan glukosa yang dikeluarkan dari katup ileosekal berbentuk chime. Ada 1500 chyme melalui usus besar setiap hari.

- Protektif, oleh sekresi musin (ion karbonat) yang pengeluarannya dirangsang oleh nervus parasimpatis, seperti pada saat emosi sekresi mucus akan meningkat.

Fungsi: Melindungi didnding usus dari aktifitas bakteri.

Melindungi dari tarauma asam yang dihasilkan faeses.

- Eliminasi fekal (defekasi dan flatus). Falatus adalah udara besar yang dihasilkan dari pemecahan karbohidrat. Defekasi adalah pengeluaran faeses dari anus dan rectum. Frekuensi defekasi tergantung individu, bervariasi dan beberapa kali per hari sampai dengan 2-3 kali per minggu. Defekasi biasanya terjadi karena adanya reflek gastro-colika. Yaitu reflek peristaltic di dalam usus besar yang dihasilkan ketika makanan masuk lambung yang menyebabkan defekasi. Biasanyanya bekerja sesudah makan pagi.

Sususnan Faeces:

- Bakteri yang umumnya sudah mati.

- Lepasan epithelium dari usus.

- Sejumlah kecil zat nitrogen terutama musin.

- Garam, terutama kalsium fosfat.

- Sedikit zat besi, selulose.

- Sisa zat makanan yang tidak dicerna dan air (100 ml).

 

Faktor yang mempengaruhi eliminasi fekal:

1. Usia dan perkembangan : mempengaruhi karakter faeces, control bayi s/d 2-3 tahun: lambung kecil, enzim kurang, peristaltic usus cepat, neuromuskuler belum berkembang.

Remaja : usus besar berkembang.

Tua : gigi berkurang, enzim di saliva & lambung berkurang peristaltic dan tonus abdomen berkurang.

2. Diet

Makanan berserat dan berselulosa penting untuk mendukung volume fekal. Diet yang tidak teratur akan menggangu pola defekasi. Contoh makanan yang mengandung gas: bawang, kembang kol, dan kacang-kacangan. Susu: sulit dicerna bagi sebagian orang/ laktusa intolerance.

3. Pemasukan cairan. Normalnya: 2000-3000 ml/hari. Jika intake cairan tidak adekuat atau pengeluaran yang berlebihan (urin/muntah) tubuh akan kekurangan cairan sehingga tubuh akan menyerap cairan dari chime sehingga faeces yang dikeluarkan menjadi keras.

4. Aktifitas fisik: merangsang peristaltic meningkat.

5. Faktor psikologik.

Cemas, marah akan meningkatkan peristaltic/ diare. Depresi akan memperlambat peristaltic usus/ konstipasi.

6. Kebiasaan: sulit BAB di tempat orang lain atau tempat yang baru karena hilangnya privacy.

7. Posisi: jongkok/paha fleksi akan meningkatkan tekanan abdomen dan posisi duduk akan meningkatkan tekanan rectum, sehingga akan mempermudah defekasi.

8. Nyeri: hemoroid menyebabkan defekasi tidak nyaman dan akhirnya menjadi konstipasi.

9. Kehamilan: menekan rectum

10. Operasi dan anastesi: blok parasimpatis 24-48 jam akan menghentikan pergerakan usus (ileus paralitik)

11. Obat-obatan: narkotik, morfin, kodein menyebabkan konstipasi. Laksatif untuk menstimulasi eliminasi bowel.

12. Tes diagnostic: barium enema dapat menyebabkan kostipasi.

13. Kondisi patologi: injuri spinal cord/kepala dan gangguan mobilisasi, dapat menurunkan stimulasi sensori untuk defekasi. Buruknya fungsi spinal anal menyebabkan inkontinensia.

14. Irritans: makanan berbumbu/ pedas, toxin bakteri/racun dapat mengritasi usus dan menghasilkan diare/ banyak flatus.

 

Gangguan eliminasi fekal utama:

1.Konstipasi

Konstipasi merupakan gejala, bukan penyakit, yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran faeces yang sulit’ keras dan mengedan. BAB keras dapat menyebabkan nyeri rectum. Kondisi ini terjadi karena faces berada di intestinal lebih lama, sehingga banyak air diserap. Frekuensi BAB masing-masing orang berbeda. Jika kurang dari 2 kali BAB setiap minggu, maka perlu pengkajian.

 

Penyebab:

a. Kebiasaan BAB tidak teratur, seperti sibuk, bermain, pindah tempat, perubahan dari kebiasaan rutin dapat dengan cepat merubah pola defekasi.

b. Diet tidak sempurna/ adekuat:

- Kurang serat : daging, telur

- Tidak ada gigi: makan lemak

- Cairan kurang

c. Meningkatnya stress psikologik

d. Kurang olah raga : berbaring lama

e. Obat-obatan: kodein, morphin, anti kolinergik, zat besi.

Penggunaan obat pencahar/ laksatif menyebabkan tonus otot intestinal kurang sehingga reflek BAB hilang.

Laksatif mengosongkan isi pencernaan sehingga memerlukan waktu untuk mengisi kolon bagian bawah.

Jika klien tidak tenang; maka ia makan lagi obat pencahar.

f. Usia

Perilstastik menurun dan otot-otot elastisitas perut menurun/ konstipasi. Usila: sekresi intestinal menurun, lubrikasi menurun dan diet menurun  masalah.

g. Penyakit-penyakit: obstruksi usus, paralistik ileus, kecelakaan pada spinal cord, tumor.

Kondisi yang tidak diperbolehkan konstipasi:

a. Post op abdomen, rectal

b. Gangguan kardiovaskuler

c. Peningkatan tekanan intra okuler (glaucoma)

d. Peningkatan tekanan intra cranial

BAB mengedan, pernafasan ditahan  tekanan intra cranial dan denyut dada menurun. Jadi cara pencegahannya dengan mengeluarkan nafas dari mulut.

2. Impaction

Impaction merupakan akibat konstipasi yang tidak berakhir sehingga, tumpukan faces yang keras di rectum tidak dikeluarkan.

Impaction berat, tumpukan faces sampai pada kolon sigmoid.

Penyebab: pasien dalam keadaan lemah, bingung, tidak sadar, konstipasi berulang, pemeriksaan yang dapat menimbulkan konstipasi.

Tanda: tidak BAB, anoreksia, kembung/kram, nyeri rectum.

Pengkajian dengan meraba rectum dengan hati-hati, dan harus dengan “standing order” dari dokter, karena dapat menimbulkan reflek vital (menurunkan denyut nadi) dan perform (terutama pada orang tua dengan tumor di kolom).

3. Diare

Diare merupakan BAB sering dengan cairan dan feces yang tidak berbentuk. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi di dalam kolom merupakanfakta tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. Akibatnya feces menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB.

Pada diare, elektrolit dan kulit terganggu, terutama pada bayi dan orang tua.

4. Inkontinensia fecal

Yaitu suatu keadaan di mana tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus, BAB encer dan jumlahnya banyak.Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spinter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara mental klien sadar akan kebutuhan Bab tidak sadar secara fisik. Pakaian klien basah, menyebabkan ia menjadi terisolasi. Kebutuhan dasar klien tergantung pada perawat. Klien dengan gangguan mental dan sensori tidak sadar ia telah BAB. Perawat harus mengerti dan sabar meskipun berulang-ulang kali membereskannya. Seperti diare, inkontinensia bias menyebabkan kerusakan kulit. Jadi perawat harus sering memeriksa perineum dan anus, apakah kering dan bersih. 60% usila inkontinensi.

5. Flatulens

Yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan distendend, merasa penuh, nyeri dank ram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Tapi jika berlebihan yaitu kasus penggunaan penenang anastesi umum, operasi abdominal, dan immobilisasi gas pendek. Gas menumpuk menyebabkan diafragma terdorong ke atas sehingga ekspansi paru terganggu.

Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus ada: pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas meta pembusukan di usus yang menghasilkan CO2. dan makanan perhasil gas seperti bawang dan kembang kol.

6. Hemoroid

Yaitu dilatasi, pembengkakan vena pada dinding rectum (bias internal dan eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan, gagal dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi inflamasi dan pengerasan, maka klien merasa panas dan rasa gatal. Kadang-kadang BAB dilupakan oleh klien, karena selama BAB menimbulkan nyeri. Akibat lanjutannya adalah konstipasi.

 

PROSES KEPERAWATAN

Pengkajian

a. Riwayat Keperawatan

- Tentukan kebiasaan/ pola eliminasi : frekuensi waktu.

- Identifikasi kebiasaan yang membantu BAB: minum air hangat, menggunakan laksatif, makanan yang spesifik, menggunakan waktu lebih lama untuk BAB

- Tanyakan perubahan BAB, kapan terakhir BAB aaaaaadan apa kira-kira penyebab perubahannya.

- Tanyakan karakteristik/cirri-ciri fecesnya: keras/lunak, warna dan bentuknya.

- Riwayat diet

- Pemasukan cairan

- Riwayat olah raga/ kemampuan mobilisasi

- Kaji apakah perlu bantuan untuk BAB di rumah

- Riwayat operasi / penyakit yang menyebabkan gangguan saluran pencernaan.

- Kaji adanya kolostomi, dan bagaimana keadaannya

- Kaji penggunaan obat-obatan: laksatif, antacid, zat besi/Fe, analgesic dsd yang dapat menyebabkan gangguan BAB

- Kaji keadaan emosi

- Kaji riwayat sosial.

b.Pemeriksaan Fisik

Tanda vital

Mulut

Inspeksi gigi dan gusi

Abdomen

Inspeksi: bentuk, simetris, warna kulit, adanya massa, perstaltik, jaringan parue, vena, stoma, lesi. Secara normal gelombang peristaltic tidak terlihat, jika dapat diobservasi berarti obstruksi intestine. Abdomen yang distensi/tegang, biasanya kerena adanya gas, tumor, cairan pada rongga perineum.

Pengukuran dengan meteran setiap hari menentukan apakah distensi bertambah. Tempat pengukuran harus tetap, misalnya pada umbilicus dan pada waktu yang sama seyiap harinya. Jika ada massa tonjolan menetap.

Auskultasi:

Lebih dulu dimulai dari palpitasi, untuk mencegah perubahan peristaltic. Dalam mengkaji ditulis bising usus normal. Sangat bising. Absent/hipoaktif, hiperaktif.

Palpasi/perkusi:

Relaks, “gentle touch”’ jika teraba massa, palpasi lebih dalam lagi, an perlu ketrampilan khusus.

Perkusi untuk lesi, cairan, gas (timpani)

Perkusi untuk tumor, massa (dull/redup).

Rektum

Inspeksi area anus: lesi, warna, inflamasi, hemorrhoid.

Palpasi (pakai sarung tangan, jelly, jari telunjuk).

c. Karakteristik fekal

Yang lebih menbgetahui klien itu sendiri.

Keadaan umum:

Warna : bayi (kuning), dewasa (coklat)

Bau : khas, tergantung dari tipe makanan

Konsistensi : padat, lunak

Frekuensi : tergantung individunya, biasanya bayi (4-6 kali sehari), bayi PASI (1-3 kali sehari), dewasa (1-3 kali perminggu)

Jumlah :150 gram sehari (dewasa)

Ukuran : tergantung diameter rectum

Komposisi : sisa makanan, bakteri mati, lemak, pigmen, bilirubin, sel usus dan air.

d. Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik

Endoskopi

Barium enema

Pengambilan sample faces:

Persiapan alat: label, tempat, reagent, pengiriman ke lab.

Pengambilan perlu pakai teknik aseptic (bedpan harus kering dan bersih). Karena 25% stool terdiri dari bakteri, jadi harus cuci tangan dan pakai sarung tangan.

Bentuk-bentuk pemeriksaan: darah feces, kultur specimen yang diambil:

Feces yang berbentuk : sedikit

Feces cairan : 15-30 cc

Feces lemak : perlu 3-5 hari pengumpulan

Jika pemeriksaan untuk tekur dan parasit, pengiriman tidak boleh ditunda.

 

Diagnosa Keperawatan

a. Konstipasi sehubungan dengan:

Tidak adekuatnya diet berserat

Immobilisasi/ tidak adekuatnya aktifitas fisik

Tidak adekuatnya intake cairan

Nyeri saat defekasi

Perubahan kebiasaan rutin (pemasukan diet)

Penyalahgunaan laksatif

Menunda defekasi

Penggunaan obat yang menyebabkan konstipasi (anti analgesic, antacid dan antikolinergal)

b. Diare sehubungan dengan:

Stress emosinal, cemas

Tidak toleransi terhadap makanan (makanan busuk, beracun)

Gangguan diet

Inflamasi (radang) bowel

Efek samping obat

Alergi

Tindakan huknah

c. Inkontinensia bowel sehubungan dengan:

Gangguan system syaraf sentral

Injuri spinal cord

Ketidakmampuan menahan defekasi

Diare

Impaktion fekal

Gangguan proses fakir/persepsi

Kelemahan

e. Potensial kekurangan volume cairan sehubungan dengan

Diare

Ketidaknormalan pengeluaran cairan melalui ostomi

f. Nyeri sehubungan dengan: radang hemoroid, distensi abdomen.

g. Gangguan perawatan diri (BAB) sehubungan dengan:

Kelemahan otot/ musculoskeletal

Kelemahan.

h. Gangguan gambaran diri sehubungan dengan:

Adanya ostomi

Inkontinensia fekal

 

Perencanaan Keperawatan

Tujuan:

a. Mengenal eliminasi normal.

b. Kembali kekebiasaan defekasi yang regular

c. Cairan dan makanan yang sesuai

d. Olah raga teratur

e. Rasa nyaman terpenuhi

f. Integritas kulit dapat dipertahankan

g. Konsep diri baik

Kriteria Evaluasi:

a. Untuk klien dengan konstipasi:

Konsistensi feces lunak

Pola defekasi normal

Tidak ada distensi abdomen, flatus dan perasaan penuh sebelum defekasi

Defekasi nyaman

Diet dan cairan seimbang (8-10 gelas per hari, tinggi serat)

Latihan teratur setiap hari (minimal 15 menit berjalan)

Tidak menahan defekasi

Menggunakan laksatif seperlunya

b. Untuk klien dengan diare:

BAB tidak lebih dari 2 kali sehari

Konsistensi faeces baik

Hidrasi baik: kulit baik, urin out put 60 ml/jam

Bebas dari nyeri abdomen dan iritasi perianal

c. Untuk klien dengan inkontinensia bowel:

Pertahankan pola defekasi yang teratur

Inkontinensia berkurang

Bebas iritasi perianal dan bau

Berpartisipasi dalam program training bowel

Interaksi sosial baik.

3 responses to this post.

  1. Artikelnya bagus Frenz….mesti baca lagi ni nanti biar lebih paham…

    Reply

  2. Mana tips yg direquest? kok belum keluar?

    Reply

  3. Posted by irada siwa salasim on February 29, 2012 at 7:55 am

    terima kasi atas ilmunya . . . . .. . . . . . .

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: