Syukuri Apa Yang Ada

Dalam suatu homili diceritakan sebuah perumpamaan yang sangat inspiratif:

Suatu ketika, di sebuah kerajaan ada seorang tukang batu yang kerjanya adalah menghancurkan batu-batu dari sebuah gunung batu hingga menjadi batu-batu kecil/kerikil untuk dijual. Setiap hari dari subuh hingga menjelang petang dia melakukan rutinitas yang sama dengan pendapatan yang tidak berlebihan, pekerjaan yang dihina orang. Suatu ketika di kampungnya diumumkan bahwa sang raja dari kerajaan itu akan melintasi desa tersebut, para warga diwajibkan untuk menyambut kedatangannya (aku jadi teringat waktu masih SD dahulu, bila presiden Suharto datang berkunjung ke daerah, murid-murid dikumpulkan di pinggir jalan untuk menyambutnya, menunggu berjam-jam hanya untuk melihat mobil nya melintas dalam 1-2 menit)

Lanjut….. begitu pun sang tukang batu itu begitu antusias ingin melihat sang raja. Di saat sang raja lewat, sang tukang batu begitu takjub melihat raja tersebut dan dalam hatinya ia berdoa, ya Tuhan, saya ingin menjadi seorang raja, karena dia begitu dihormati dengan segala kemewahan yang raja punya.

Permintaannya pun ter kabul — jadilah ia seorang raja.

Saat ia menjadi seorang raja, dia sangat menikmati kedudukan, fasilitas dan penghargaan yang dia miliki, namun demikian lama kelamaan dia mulai merasa tidak nyaman dengan keadaannya karena dia harus mengikuti segala prosedur dan jadwal yang ada, dia harus terkurung dan harus selalu waspada di manapun dia berada, dia merasa terkekang. Saat dia berada di suatu teras istana, dia melihat taman istana yang begitu mengagumkan berpadu dengan awan di langit. Dia melihat awan itu begitu putih, bersih dan bebas bergerak kemanapun ia pergi. Maka dalam hatinya pun ia bermohon untuk dapat menjadi awan.

Permintaannya pun ter kabul — jadilah ia awan.

Saat menjadi awan, dia sangat menikmati keadaannya, karna dia bisa berada dimana saja, bisa pergi kemana saja, sangat bebas. Namun demikian disaat angin datang berhenbus kencang dia bertiup dan pergi kemana saja angin itu ingin membawanya. Angin itu membawanya hingga melewati suatu gunung batu yang kokoh. Awan itu merasa iri dengan gunung batu itu, yang kokoh tak tergoyakan. Awan itupun bermohon untuk menjadi gunung batu.

Permintaannya pun ter kabul — jadilah ia gunung batu.

Saat dia menjadi gunung batu, dia yakin bahwah inilah puncak kehidupan yang dia dambakan, karna tidak dapat tergogakan. Dia dapat memandang segala hal dari tempatnya yang tinggi. Dia tahan dari segala perubahan cuaca, dia yakin tak ada yang dapat menghancurkannya. Namun disaat ia memandang ke bawah, terkejut dia karena di bawah gunung batu itu ada seorang tukang batu yang lagi memecahkan batu.

***

Begitulah kadang kita sering menghadapi hidup kita, kita sering begitu ambisi dan tidak puas akan apa yang telah kita miliki, kita sering memandang apa yang dimiliki atau dikerjakan oleh orang lain lebih baik dari apa yang kita miliki (Iri).

“Rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput di pekarangan rumah sendiri”

Iri yang positif dapat memotivasi kita untuk dapat bekerja dan melakukan yang lebih baik, sedangkan iri yang negatif hanya akan membawa perasaan dengki, bersungut-sungut dan rasa penyesalan akan apa yang dialaminya.

Kita kadang kurang menyadari bahwa apa yang kita punya/kita kerjakan adalah sesuatu yang punya manfaat yang besar bagi orang lain. Bayangkanlah bila semua tukang sampah tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, maka penuhlah kota ini dengan sampah, begitu pun dengan perumpamaan hiperbola berikut: apabila Pak Slamet tidak mensyukuri dan tidak melaksanakan tugas hariannya di LBI-UI, apa yang terjadi? Itu dapat berdampak global bagi masa depan bangsa Indonesia. Bagaimana mungkin? Yaialah, alasannya adalah tidak akan ada orang yang menyediakan/membawa kamus dan perlengkapan belajar di masing-masing kelas, kemudian dosen tidak mampu mentransfer ilmu dengan maksimal, kemudian murid-murid tidak dapat menangkap ilmu dengan maksimal, kemudian kemanpuan b.inggris kita tidak bertambah/hasil tes, kemudian saat studi di LN karena kemampuan b.inggris yang kurang, kita tidak dapat menyerap ilmu dengan maksimal sehingga lulus dengan nilai yang paspasan dan kita pulang ke tanah air tercinta Indonesia hanya dengan ilmu yang seadanya dan tidak mampu membangun negara dan dunia, bukanlah itu berdampak global!? Lebay! dan berlebihan….!, tapi cukup berlogikakan, Hehehehe!

Sadarilah bahwa sekecil apapun pekerjaan yang kita lakukan dan tekuni, itu akan selalu anda manfaatnya bagi orang lain. Fokus, lakukanlah yang terbaik dan selalu menyukuri akan hikmat dan berkat yang diberikan Tuhan pada kita.

“Syukuri apa adanya, hidup adalah anugra, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik” (D’Masiv-Jangan Menyerah)

4 responses to this post.

  1. kisah yang sangat inspiratif. saya link blog ini ke blog saya yaa. thanks…

    Reply

  2. Tetangga sudah tidak punya rumput, tanah di sekeliling sudah dicor semua😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: