PATRON KELUARGA MASA DEPAN

Selamat hari ibu!

Kapan hari bapak? Kenapa terasa begitu tidak adil ya! Kenapa bukan hari orang tua saja?.

Hari ini tiba-tiba aku terbangun terlalu subuh (pukul 03.21). Hal pertama yang teringat adalah tiketku, aku belum mengambil tiket yang kutempel didepan meja belajar Apa jadinya kalau aku lupa membawanya nanti saat dibandara !? Penantian yang panjang untuk bertemu dengan orang-orang yang kusayangi akan hilang! Untung Tuhan membangunkanku dan  mengingatkanku. Karena tidak bisa tidur lagi maka kuputuskan untuk main FB dan menuliskan sepotong tulisan untuk hari ibu saja.

Menceritakan ibu, berarti menceritakan ayah dan keluargaku jadi kuputuskan untuk menceritakan orang tuaku saja.

Ayahku: Patron calon suami masa depanku!

Aku sangat bersyukur kepada Tuhan bisa dilahirkan, dibesarkan dan dididik di keluargaku ini (Kel. Lamonge-Rapar), ayahku seorang pensiunan PNS.  Dia adalah seorang pekerja keras, disiplin dan sangat teliti. Kinerjanya yang baik membuat ayah memperoleh perpanjangan masa kerja. Ayahku bukanlah NATO(No Action, Talk Only). Dia sedikit bicara, tapi perhatian dan hasil kerjanya begitu nyata dan bermanfaat. Ayahku orang yang sangat sabar dan perhatian. Disaat sedang bertengkar dengan ibuku, maka ia cenderung untuk memilih diam dan baru berbicara bila ibuku sudah tenang! Ia adalah orang yang paling mengingat momen-monem atau tanggal-tanggal penting dalam keluarga. Sebagai contoh, beberapa hari sebelum ulang tahunku, ia telah mengingatkan pada ibuku hal apa yang perlu dilakukan atau dipersiapkan. Dia tidak pernah dengan sertavmerta mengatakan “Sintia anakku, selamat ulang tahun”, tapi aku bisa merasakan sayangnya padaku, dipagi hari/subuh saat dia membangunkan kami sekeluarga untuk ke gereja(misa sibuh). Kalaupun sudah telat maka kami sekeluarga berdoa bersama di kamar keluarga orang tuaku, dikamar itu ada sebuah meja doa sehingga kami memasang sebuah lilin dan berlutut untuk berdoa bersama. Ayahku selalu memimpin doa bersama dan dalam doanya selalu diungkapkan syukur, pujian, mohon pengampunan dan pengharapan. Tak jarang aku menangis disaat itu!. (ops, kenapa sekarang mataku mulai berair…!)

Begitu banyak hal positif yang kukagumi darinya, hingga aku begitu kawatir bila ada hal miring yang dapat membuyarkan kekagumamku itu. Kadang bila mendengar ada berita KDRT, perselingkuhan dan mabuk-mabukan yang dilakukan oleh bapak-bapak di sekitar lingkungan kami atau di media massa, aku justru bersyukur itu tidak pernah terjadi dalam keluarga kami. Begitu idealnya ia, sebagai seorang suami menjadikannya sebagai patronku untuk mencari calon suami masa depanku nanti. (Amin Tasya)

Ibuku: Patron hidupku!

Ibuku adalah orang yang sangat visioner, pekerja keras, ekspresif dan perhatian.  Ibuku  selalu mengatakan padaku dan adikku bahwa ia terlahir dikeluarga yang tidak berada, yang sekolahpun tidak mampu, meski ia punya cita-cita yang tinggi (ingin sekolah lanjutan perawat). Ia harus membantu orangtuanya (kakek dan nenek) bekerja untuk menghidupi adik-adiknya yang banyak. Ia tidak ingin aku dan adikku merasakan hal yang sama dengannya. Katanya “Harta benda dapat dicuri orang, tapi ilmu tidak pernah hilang dicuri orang” Oleh karena itu,  ibu ingin aku dan adikku dapat memperoleh ilu setinggi mungkin. Saking begitu visioner dia menentukan dan merencanakan masa depanku (meski pada awalnya kumerasa tidak adil buatku) namun setelah kupertimbangkan  hal itu sangatlah sejalan pula dengan harapanku. Cita-citaku saat remaja yaitu ingin berkecimpung di dunia hukum seperti ayahku.  Aku ingin menjadi seorang jaksa. Namun saat hendak masuk SMA, ibuku memaksaku untuk masuk SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) yang memang merupakan cita-citanya dulu. Aku tidak akan disekolahkan bila aku tidak mau masuk sekolah itu dan aku menurutinya. Selama mengikuti pendidikan di SPK aku justru jatuh cinta dan tertarik dengan Dunia Keperawatan itu sendiri, bahkan mendorongku meminta orangtuaku untuk menyekolakanku ke tingkat yang lebih tinggi.

Ibuku menggunakan keahlian dan hobinya dalam menjahit, memasak dan membuat kue sebagai bahan usaha untuk menopang keluarga kami. Mungkin 70% dari total pendapatan keluarga kami berasal dari usahanya. Masakannya sangat enak, makanya berat badanku cenderung bertambah bila aku berada/tinggal dirumah. Saat ini memang aku belum mewarisi ilmu memasaknya, karena dulu saat aku mau membantunya didapur, maka aku hanya kebagian menyuci peralatan atau hal-hal yang ringan saja.  Katanya “Kau pergi belajar saja. Kalau kau bantu disini maka hanya akan merepotkan dan tidak cepat dan takut bumbunya tidak pas”.

Ibuku bukan seorang ekomon, tapi dia sangat mahir dalam mengatur keuangan keluarga. Dia tahu cara pengalokasian uang. Dia mengajarkan kami (aku dan adikku) untuk belajar menabung. Tapi ibuku bukanlah orang yang pelit. Ada satu hal yang cukup mengherankanku dulu: bila ada tetangga/orang lain atau keluarga jauh kami dan datang minta pertolongannya dalam hal uang atau lainnya, maka ibuku akan sangat dengan sukarela  membantunya. Hal itu yang membuatku kadang merasa tidak adil. Saat aku mau meminta uang untuk membeli sesuatu ia sangat sulit memberikannya, tapi disaat orang datang mengeluh dan mohon bantuannya, ia dengan sukarela membantu mereka. Aku merasa tidak adil. Namun dari situpun aku belajar bahwa kitapun perlu peka dan perlu membantu  dengan ikhlas orang-orang di sekitar kita.

Lama kelamaan aku mulai mengerti dan justru bersyukur atas perlakuannya itu. Aku belajar untuk selalu membuat perencanaan dan strategi ke depan,  termasuk mengalokasikan dana. Berapa yang harus ditabung, berapa untuk kebutuhan harian/bulanan dan berapa biaya sosial. Aku belajar bagaimana mencari uang tanpa harus membebani keluargaku. Sebagai contoh: saat kuliah dulu,  aku tidak memiliki komputer, aku tahu aku akan sangat memerlukannya saat melakukan TA/Skripsi maka ibu mengatakan agar aku menabung. Karena itu saat kuliah aku memanfaatkan kemalasan teman-temanku dalam membuat tugas paper atau homework lainnya untuk mendapatkan uang. Aku dapat menghemat biaya transportasi, makan dan jalan-jalan karna dibayarkan oleh teman yang aku bantu dalam menjelaskan beberapa materi pelajaran.

Ibuku orang yang sangat optimis “Kalau orang lain bisa, kenapa kau tidak bisa! Mereka makan nasi, kita juga”. Aku teringat saat ada arisan(kumpulan) di rumah, maka ia akan sangat bangga menceritakan pencapaian atau prestasi yang aku dan adikku peroleh, bahkan itu cenderung berlebihan. Sebagai contoh : bila IPK  3 koma…maka ia akan menceritakan pada teman-temannya bahwa IPKku lebih tinggi dari yang sebenarnya. Aku merasa agak malu, tapi hal itu memotivasiku untuk mencapai nilai yang lebih tinggi dan sesuai yang dia katakan. Kadang aku merasa dia memanfaatkan sayangku padanya.  Oh…ya! ada satu kebiasaan ayahku yang mungkin bagi sebahagian orang tidak baik untuk perkembangan anak. Tapi bagitu itu adalah suatu strategi. Saat aku kuliah ayahku akan memberikan aku reward berupa uang Rp.50.000/SKS bila nilaiku A. Bila nilaiku B maka aku tidak mendapatkan apa-apa. Bila nilaiku C maka aku yang harus memberikan uang ke ayahku sebesar Rp. 50.000/SKS. Dari itu aku belajar utuk selalu memiliki dan menjadikan hidup itu sebagai suatu challenge. Namun hal itu tidak membuatku menjadi ‘money oriented’ melakukan sesuatu bila mendapatkan imbalan.

***

Orangtuaku: Gereja kecilkku!

Aku bangga dan sangat sayang dengan orang tuaku. Aku takut kehilangan mereka. Pikiran itu begitu kuat timbul, bila aku atau salah seorang keluargaku sedang berhari ulang tahun. Bertambanya usia tidak hanya mengidentifikasikan kedewasaan seseorang tapi juga fisik seseorang. Artinya semakin bertambanya usia kita, maka fungsi-fungsi organ akan makin bertambah atau mulai berkurang (pada lansia). Kusadari sekarang orang tuaku sudah berusia diatas 50 tahun, mereka sudah masuk kategori lansia pertengahan, kutahu diusia seperti itu, kekuatan dan kemampuan tidaklah sama dengan saat masih di usia produktif(18-45 thn).

Ayahku beberapa waktu yang lalu (saat salah seorang tetanggaku meninggal) mengatakan padaku orang tua(ayah dan ibuku) suatu saat akan “tutup mata”(meninggal) oleh karena itu aku harus bisa hidup mandiri tidak bergantung pada orang, harus bisa hidup berani, harus bisa mencari pasangan yang tepat, harus bisa bahagia.  Mungkin itu kata-kata yang biasa/umum, tapi bagiku itu harapan yang sangat dalam dari ayahku untuk masa depanku.

What does the man imply? What should I do?

“Kesuksesan orang tua tidak diukur dari harta yang dihasilkan tapi dari keberhasilan anak-anaknya”

Membahagiakan orang tua dan membuat mereka bangga adalah hal yang bisa kulakukan. Melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kita cintai adalah wujud cinta itu sendiri bagi mereka. Itu menurutku.

Aku teringat cerita dari salah seorang anak IFP di kelas kami. Tentang seorang ibu tua yang duduk dikursi roda dan seorang anak. Mereka berjalan-jalan di tepi sungai. Saat di tepi, mata ibu itu sudah agak kabur sehingga ia menanyakan pada anaknya, benda kehitaman apa yang berada di tengah danau itu. Kata anak itu “Bangau bu”,

Beberapa waktu berselang itu itu kembali menanyakan “Benda kehitaman apa yang bergerak-gerak di tengah danau itu”,

Jawab si anak “ Itu bangau yang tadi bu”,

Beberapa waktu kemudian sang ibu bertanya lagi “Kalau yang bergerak terbang itu apa nak?”,

Maka dengan nada yang tidak mengenakkan/kesal sang anak menjawab “Ibu, apa ibu tidak melihat bahwa itu adalah bangau yang sama tadi”.

Seketika itu sang ibu meneteskan air matanya, katanya “Nak, tahukah kau, beberapa puluh tahun yang lalu, aku pernah membawa seseorang yang kucintai kesini dan ia menanyakan 10 kali hal yang sama padaku, tapi tak satukalipun aku merasa kesal atau marah atasnya”,

Dengan polosnya anaknya bertanya “Siapakan orang itu bu?”, Jawab ibu itu “Anak kesayanganku, kamu!”.

Anak itu kemudian menangis dan memohon maaf akan sikapnya tadi.

Yup! Aku langsung teringat akan orangtuaku. Apakah aku sanggup menbahagiakan mereka diusia senjanya, apakah aku bisa begitu sabar, perhatian dan sayang, sama seperti yang aku terima saat aku masih kecil dulu? Suatu pengalaman yang lain juga saat aku praktek keperawatan Geronti di salah satu panti wherda di daerah Tanggera. Panti ini dihuni oleh para lansia yang cenderung berasal dari keluarga kaya. Melihat dan merawat mereka seperti melihat dan merawat orang tuaku sendiri. Saat mereka curhat tentang kesuksesan dan keberhasilan anak/cucu mereka. Tapi satu yang membuat hariku terenyuh adalah mereka selalu menangis diakhir cerita saat mengungkapkan kekecewaan anak-anak mereka memasukan mereka di dalam panti. Bahkan ada  lansia yang demi kebahagiaan anaknya sengaja ingin masuk panti agar tidak merepotkan anaknya. Oh…benar…benar cinta yang sangat besar.

Hal yang kupelajari dari mereka adalah 1.) orang tua akan selalu memikirkan dan mendahulukan kebahagiaan anaknya, meski hal itu sangat sakit bagi mereka. 2.) Jangan pernah berpikir untuk memasukkan orang tuamu ke panti wherda, bila kau tidak mampu merawatnya. Pekerjakanlah tenaga ahli untuk merawatnya dirumah. 3.) Menikahlah dengan pasangan yang juga sayang dan hormat dengan orang tuanya/orangtua kita. 4.) Jangan melakukan hal yang engkau sendiri tidak ingin dilakukan padamu Engkau juga akan menjadi orang tua dan menjadi lansia.

***

Banyak hal lain yang kupelajari dari orang tuaku dan kehidupan di sekelilingku. Begitu banyak kisah suka dan duka yang kualami! Tapi semuanya terasa begitu indah saat dikenang. Begitu banyak cinta yang kurasakan sehingga membuatku takut terluka, takut apakah aku  bisa memiliki keluarga seperti keluarga orang tuaku kelak. Keluarga yang bisa meneladani keluarga kudus Nazareth. Keluarga Harmonis.

“Keluargaku adalah gereja kecilku, kekuargaku adalah patron keluarga masa depanku”

3 responses to this post.

  1. Kok tulisannya ndak dipotong? sudah bisa kan?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: