Kesiapan di Masa Adven: Duniawi vs Rohani

Krans advent minggu ke IV

Akhirnya, hari-hari penantian untuk dapat pulang  dan berlibur ke kampong halamanku Manado tercapai juga. Beberapa hari sebelum pulang kemanado, aku mulai tidak konsentrasi  dalam perkuliahan di LBI-UI, tidak hanya aku sebahagian besar teman-teman juga merasakan hal yang sana.  Badan memang berada di Jakarta, tapi pikiran kita sudah berada di hometown masing-masing.

Saking sangat ingin cepat pulang aku ijin untuk tidak menyelesaikan satu sesi materi perkuliahan, aku bergegas ke bandara takut ketinggalan pesawat, alhasil pesawatnya di daley 45 menit. Sebenarnya setiap aku naik pesawat, aku biasanya cukup ketakutan, tapi saat ini kerinduanku pada keluarga dan teman2 yang kukasihi  mengalakan rasa takutku. Perjalanan cukup menempuh waktu yang lama(4 jam lebih) karena kami harus transit 20 menit di Bandara Sepinggan di kota Balikapan. Tuhan memang berkenan, penerbangan dan cuaca saat itu hingga tiba di manado sangatlah baik.

Setibanya dibandara sam ratulangi manado, perlu beberapa waktu sejenak menanti bagasiku(setumpuk ole-ole untuk orang-orang yang kusayangi). Sembari menanti, tiba-tiba berdiri didepanku sesosok makluk kecil, pendek dan botak berkaos hijau! Siapa bocah ini? Katanya “kaka ada pigimana so?(kaka dari mana?)”, ops… aku mengenali suara itu, itu adik terkecilku “Nathan”. Seketika itu aku mengangkatnya  kepelukanku dan menciumnya. Aku tidak mengenalinya karana rambutnya sudah botak plontos. Langsung terlintas dalam pikiranku “Ipin @ Upin”. Ya…menang adikku memang sangat menggemari serial anak tersebut. Entah kenapa dia malu-malu terhadapku, mungkin ia malu karena sekarang ia botak. Selain itu aku tidak menyangka bahwa keluarga lengkap(papa, mama dan dua adikku) termasuk “seseorang” datang menjemputku. Biasanya aku pulang sendiri!, apa mereka sangat merindukanku juga!.

Melihat ibuku, ia tetap begitu cantik dengan paras orientalnya, dia tersenyum, memeluk dan menciumku. Melihat ayahku, ia  kelihatan bahagia, sepertinya berat-badannya bertambah. Melihat adik perempuanku, aku cukup kaget karna ia sama dengan ayahku: bbnya sepertinya naik juga. Yang terakhir aku melihat sesosok makluk ganteng yang senyam-senyum menatapku, yup! Dialah pria yang kurang lebih 4,3 thn ini sedang dekat denganku, ia tampak lebih ganteng meski dengan pakaian  yang seperti bapak-bapak(kemeja dan celana kain yang tidak modis-maaf yaa “stan”!).

Mulai dari bandara hingga kerumah, sepanjang perjalanan suasana natal begitu kental, pohon natal, gerlap-gerlip lampu di jalan-jalan, di tiap rumah dan lagu-lagu natal yang berkumandang memang sudah menjadi hal “wajib” saat menjelang natal dan tahun baru. Kebutuhan listrik kota manado meningkat  dan pasti rekening tiap rumah naik secara drastis.

Setibanya dirumah, aku langsung makan masakan ibuku yang sangatlah kurindu. Keadaan rumah tidak banyak berubah, tapi itulah yang kurindu. Malam itu aku tidur dengan nyenyak dikamar adikku, tidur dikamarnya seperti tidur di gallery korea, begitu banyak poster drama korea. Ya! Dia memang penggemar film dan drama korea, dia berharap suatu saat bisa jalan-jalan ke negri “Kimchi?” itu.

Rencana awalku untuk hari pertama dimanado adalah menjelajai mall-mall dan took-toko yang ada. Tapi hal itu gagal, karna hujan deras seharian. Dipagi hari, seperti melakukan rutinitasku dulu yaitu menbaca Koran local. Sesuatu yang sangat miris diberitakan(Harian Komentar): berita perampokan! Seorang ibu yang hedak membawah uang sumbangan natal di gereja katedral manado, dirampok di depan gereja, tangan ibu itu dipotong oleh perampok, saat terjadi adu tarik-menarik uang tersebut. Alhasil uang sebesar Rp. 150.000.000 rahib dibawah perampok.

***

Seuatu yang sangat tragis yang terjadi di saat menjelang natal. Masa-masa menjelang natal (masa adven/penantian) seharusnya diisi dengan kesiapan hati/batin, kesiapan sikap dalam bertindak. Masa dimana kita seharusnya memperbaharui diri dan bertobat untuk menyambut kedatangannya. Namun semakin moderennya dunia ini mulai terjadi pergeseran paradikma berpikir dari masyarakat. Menyambut dan merayakan natal dan tahun baru cenderung dimaknai dengan perpestapora dan bersenang-senang, dengan baju baru, dengan kue dan makanan serta dengan berbagai kegiatan duniawi lainnya

Perubahan cara pandang itu sangat berdampak luas, tuntunan gaya hidup dan kebiasaan menuntut peningkatan kebutuhan akan uang yang lebih banyak untuk memenuhinya. Berbagai kasus kejahatan (pencurian dan perampokan)justru meningkat drastic disaat-saat menjelang hari-hari besar keagamaan. Orang akan cenderung berupaya menemuhi kebutuhan keluarga/diri secara duniawi daripada secara rohani. Segala cara dilakukan meski hal itu tidaklah benar/halal dan justru mencederai orang lain.

Merayakan natal dan tahun baru dengan berpesta, dengan pakaian yang baru, merupakan salah satu wujut sukacitatersebut (bagi yang mampu) dan hal itu tidaklah di larang, asalkan kesiapan batin/secara rohani juga menyertainya. Jangan pernah memaksakan diri untuk memiliki pakaian yang baru, peraboran yang baru, makanan/kue natal yang banyak bila kita tidak sanggup menyediakannya. Yesus sendiri datang dan dilahirkan didunia dengan cara yang begitu kudus dan sederhana. Begitupulalah yang seharusnya kita lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: