KEYAKINAN YANG TEGUH UNTUK SUATU PENGHARAPAN

Namanya “Nathan”: Kecil, sangat lincah, pintar, hitam manis berlesung pipi, bergigi ‘ompong’,tawanya ‘tore’,  pintar ‘ba goyang’/dansa dan suka banyak bertanya…..! itulah sedikit gambaranku terhadap adik  bungsu laki-laki yang ada di keluarga kami. Memang dia bukan adik kandungku, tapi dia sekarang menjadi anak yang paling disayang dan menjadi penggembira dalam keluarga kami. Perasaan sedih selalu muncul saat teringat pertama kali aku melihatnya datang kerumah kami; begitu kurus, perut buncit, mata besar seperti melotot, rambut kemerahan (ciri-ciri gangguan gizi)kulit hitam kotor, ada beberapa luka dan  bekas luka ditubuhnya dan tampak ketakutan. Begitu kasihan dan menyendikan!. Tak menyangka, anak seusianya tidak merasakan kasih sayang, seperti yang saya dan adik perempuanku terima. Mulanya ayahku menolak keputusan ibuku untuk mengadopsinya, karena takut diambil lagi oleh keluarganya(mengingat keluarga kami sudah punya riwayat mengadopsi anak namun kemudian diambil lagi oleh orang tuanya)tapi saat melihatnya, Tuhan menggerakkan hati kami sekeluarga, dia masih kecil dan punya potensi yang besar dimasa depan yang cerah, dia hanya butuh kesempatan, kasih sayang dan pendidikan!. Dia menjadi pengharapan keluarga kami.

Mulanya memang begitu sulit beradaptasi dan mempersiapkan segalanya. selama  dua tahun 2 bulan ia bersama dengan keluarga kami, memang butuh kasih dan kesabaran yang lebih dalam mendidiknya, sama seperti anak-anak pada umumnya, ada beberapa kenakalan yang ia lakukan dan itu wajar menurutku. tapi yang kulihat dia itu anak yang pintar, dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan “kenapa begini, kenapa begitu, kenapa harus”, kadang membuat harus berpikir panjang dahulu untuk menjawabnya. Ia punya daya ingat yang baik yang kadang membuatku kagum bahwa ia bisa mengingat sesuatu yang sangat terperinci seperti itu. Dia dengan begitu mudahnya bisa menghafal huruf, membaca, menghafal doa-doa dasar katolik dalam b.Indonesia dan b. inggris (yang aku sendiri tidak hafal), bahkan baru-baru ini kudengar dia bisa hafal perkalian 1-10.

Kami sekeluarga berupaya bisa mendidik dan membesarkannya hingga bisa menjadi orang yang bisa dibanggakan, yang bisa mengabdi pada Tuhan dan Sesama. Aku sendiri berharap suatu saat dia bisa menjadi seorang Imam/Pastor. Aku mungkin orang yang paling sayang, paling sering memanjakan tapi juga yang paling dia “takuti”, bila aku marah padanya, biasanya aku hanya memandangnya ‘tajam’ dan diam, dia biasanya tau bahwa aku sedang marah padanya, namun kadang kala bila sudah tidak tahan aku menyuruhnya berdiri di hadapanku tanpa bergerak sampai dia mengaku tidak akan berbuat kenakalan yang sama.(maaf saja…aku belum berpengalaman mendidik anak)

saat aku harus berpisah dengannya untuk studi di Jakarta, dia menjadi orang yang paling kurindukan. Kemanapun aku pergi dan melihat ada barang/mainan yang bagus dan cocok untuknya, maka aku akan membelinya, sampai sampai lemari di kos ku penuh dengan mainannya dan akhirnya harus ku kirimkan via post. Pada awal bulan desember lalu, dia memintaku sesuatu sebagai hari ulang tahunnya (HUT: 26 Des; tanggal lahir yang diberikan orang tuaku, mengingat keluarganya yang dahulu tidak mengetahui tanggal lahir bahkan umurnya; untuk mengidentifikasi umurnya, aku bahkan membawahnya ke dokter gigi untuk menilai umurnya berdasarkan struktur gigi). Dia meminta sebuah sepeda, sesuatu yang bisa kuberikan tapi tidak mungkin kubawa dari Jakarta. Aku berjanji padanya akan dibeli di manado saja. Namun saat di manado, uang untuk membeli sepeda itu justru digunakan untuk membeli keperluannya yang lain, yang lebih penting. Aku mengatakan padanya sepeda itu nanti kubelikan saat kenaikan kelasnya saja(saat ini dia siswa kelas 1 SD) dengan syarat dia harus masuk peringkat 5 besar di kelas. Aku yakin dia bisa melakukan itu, karena rengking semester satunya saat ini, ia masuk 10 besar. Kuharap ini bisa menjadi sarana belajar baginya, bagaimana memperjuangkan sesuatu, bagaimana menggapai cita-cita.

Seminggu yang lalu, aku mendapatkan kabar bahwa, orang tuaku mendapat surat panggilan dari wali kelasnya di sekolah. Hal ini terkait dengan kenakalan yang dibuat oleh adikku. Saat mendengarnya aku sangat marah dan membuat keputusan untuk tidak akan bicara dengannya lagi, hingga ia merubah sikapnya dan mendapat juara dikelas. Raportnya harus menjadi bukti perubahan sikap dan prestasinya. Suatu keputusan yang terburuh-buruh yang cukup menyakitiku juga.

Semalam orang tuaku menelponku untuk menanyakan kabarku disini, bagaimana studinya!, akan studi dimana! Dll, terutama ibuku yang sangat ingin ke Amerika, aku hanya bilang “kalaupun akhirnya aku hanya studi di Asia, aku pasti akan tetap menbawanya ke Amerika, Jadi tenang saja!” dan diapun bingung dan tertawa!. Berbeda dengan ibuku yang sangat antusias menggebu-gebu tentang rencana kedepanku, ayahku lebih banyak menanyakan keadaanku dan kesehatanku. Entah kenapa kalau bapakku yang bicara, perasaanku menjadi…emm…gimana gitu…! Sulit dilukiskan. Bawaannya pengen nangis dengar nasehatnya! . kutau mereka juga menaru pengharaan yang besar untukku dan tugasku adalah berupaya seoptimal mungkin. Disela-sela pembicaraan aku bisa mendengar suara dan tangisan adikku yang ingin bicara denganku, tapi aku masih tetap egois tidak mau bicara, padahal aku sangat ingin. Ah….menjengkelkan! aku rindu mereka semua.

***

Bicara soal sepeda, aku secara samar-samar teringat tentang sebuah kisah saat aku masih kecil dahulu(Taman Minggu/sekolah minggu). Kisah itu menceritakan tentang pengharapan seorang anak kecil untuk memperoleh sebuah sepeda. Kurang lebih beginilah kisahnya:

Seorang anak petani yang tinggal disebuah desa, ia tinggal dan dibesarkan dikeluarga yang miskin, orang tuanya hanya cukup memenuhi kebutuhan makan harian saja(gaji yang diperoleh hari ini hanya untuk hidup hari ini). Saat kesekolahpun ia hanya berjalankaki tanpa alas kaki pula, teman-temannya yang lain berangkat kesekolah menggunakan sepeda atau sepedamotor. Dia sangat berhapat suatu saat iapun dapat memperoleh sebuah sepeda. Tiap malam ia berdoa diberikan sepeda, tiap malan dia berdoa agar orang tuanya diberikan rejeki agar bisa membelikannya sepeda. suatu saat di salah satu mata pelajaran di kelasnya diceritakan tentang balon gas, dimana balon tersebut dapat terbang kelangit. Dalam benaknya dia terpikir bahwa balon ini adalah media/cara untuk mengirimkan pesan bagi Tuhan. Pikirannya itupun ia realisasikan. Uang jajan hariaanya dia gunakan untuk membeli balon gas, taklupa dalam balon tersebut dia sisipkan sepucuk surat untuk Tuhan berisi permohonannya untuk mendapatkan sepeda. Hari berikutnya dia sangat menanti, namun tak kunjung datang. Dia tetap semangat, dia menulis surat lagi, pikirnya mungkin Tuhan telah membacanya tapi tidak mengetahui siapa yang mengirimnya. Keesokan harinya dia membeli balon gas dan menyisipkan surat yang telah menyertahan namanya. Esoknya lagi ia kecewa karena belum dijawab tuhan. Maka malamnya lagi ia menulis surat lengkap dengan alamat lengkap rumahnya, pikirnya Tuhan telah menerima suratnya lagi tapi tidak mengetahui dimana sepeda itu akan dikirimkan. Hal itu dia lakukan berulang kali dengan berbagai alasan yang menguatkan keyakinannya bahwa apa yang dia harapkan akan diberikan tuhan.

“————–”

Tiba-tiba keesokan harinya sebuah sepeda diantarkan di rumahnya atas nama anak tersebut. Anak itu begitu bersukaria dan girang menerima hadiah sepeda tersebut.

Setelah anda membaca cerita tersebut pasti anda berpikir bahwa mujizat itu nyata terjadi layaknya sebuah sulap “bim sala bim”!

Ohw! jangan salah,  “————-” adalah kisah yang hilang!

“————–”:  setiap melepaskan balon gas itu, ternyata gas balon itu pada suatu waktu akan habis dan balon tersebut akan jatuh. Setiap balon dari anak tersebut ternyata selalu jatuh di pekarangan rumah seorang yang cukup kaya, sehingga tiap hari pemilik rumah tersebut selalu mendapati balon tersebut dan membaca permohonan dari anak tersebut. Tindakan sang anak yang begitu polos tersebut menggambarkan suatu iman dan pengharapan yang besar. Hal itu pula yang menggerakkan hati sang kaya sehingga ia memutuskan mengutus salah seorang pekerjanya untuk membeli sepeda dan mengirimkannya pada anak tersebut tanpa menyertakan nama pengirimnya.

Aku percaya akan Mujizat dari Tuhan dan aku percaya Tuhan pun bekerja menjawab kerinduan hati tiap umatnya dengan “menggerakkan hati Orang” baik dirinya sendiri atau orang lain. Oleh karena itu sangatlah penting menjaga “Hati nurani kita” sebagai “Bait Suci Allah” untuk tetap “Suci”, Karena itu adalah pintu dimana Ia bekerja atas kita. (Song: Jagalah Hati _ Snada)

***

Entah apakah cerita diatas nyambung dengan cerita tentang adikku….tapi aku percaya, sama seperti anak petani itu dan anak-anak lain pada umumnya yang polos dan punya keyakinan yang teguh atas pengharapannya. Maka aku yakin adikku juga seperti itu.

Kupikir kitapun bisa belajar menjadi dari cerita diatas untuk tetap memiliki keyakinan yang teguh untuk suatu pengharapan. Suatu keyakinan bisa dikatakan merupakan suatu prinsip yang kita pegang, yang menjadi pegangan hidup kita dan bila itu dibuat adalah suatu kalimat, hal itu disebut “Moto” Hidup. Teringat saat sekolah dahulu sering menulis biodata dan menyertakan moto hidup yang sebenarnya tidak tau benar apa makna dan kegunaannya. Alhasil yang diisipun adalah sekumpulan kata-kata yang enak didengar(sound good!) saja!.“Tiada kesuksesan tanpa perjuangan, tiada perjuangan tanpa pengorbanan, tiada pengorbanan tanpa cinta” itulah moto yang kuperoleh dari salah satu guruku saat aku SPK dan ku gunakan dalam CVku. Moto itu secara tidak langsung justru memberi pengajaran dan mempengaruhi jalan hidupku setelahnya.

Namun semakin berjalannya waktu, sebenarnya kita telah membentuk dan punya moto hidup masing masing yang mungkin belum/tidak pernah dirangkai dalam sebuah kalimat. Tapi “sekumpulan kalimat itu” sebenarnya tidak berarti bila tidak tercermin dalam hidup kita sehari-hari.

 

4 responses to this post.

  1. Lagi apa Mem?

    Reply

  2. lagi belajar spss, kau juga bukan!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: